TENTANG AKU

My photo
Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia

Thursday, 8 November 2018

KATA-KATA SAKTI ITU PERNAH MEMBAWAKU KELILING DUNIA

Percaya atau tidak, ini adalah kata-kata yang pernah kuucapkan di masa kecil dulu waktu aku bersama teman-teman, bercanda sambil bermain kata berandai-andai dan ternyata kini menjadi  kenyataan...


Namaku Ade Sutrisna. Konon sebenarnya nama asalku itu Nana Sutrisna yang merupakan nama pemberian dari kakekku, Econ Karsan. Tapi karena waktu itu kondisi kesehatanku sering sakit-sakitan dan berdasarkan tradisi adat setempat apabila terjadi keadaan seperti ini agar terhindar dari segala bala atau  ketidakberuntungan di kemudian hari maka keluargaku bersepakat menggantinya dengan nama baru, Ade Sutrisna. Jadi nama depan Nana diganti dengan Ade.

Aku dilahirkan pada hari Kamis tanggal 9 Januari 1969 di sebuah perkampungan dekat pesisir pantai utara, Kedungwungu. Daerah ini masih termasuk wilayah kabupaten Subang, Jawa Barat. Aku merupakan anak tunggal dari orang tuaku, Eman Sulaeman dan Taskinah.
Almarhum ayahku adalah mantan penjaga Sekolah Dasar di desa Gembongan, kabupaten Karawang. Sedangkan ibuku hanya sebagai ibu rumah tangga. Sepeninggal ayahku, ibuku menikah lagi dengan ayah tiriku, Warim. Dari pernikahannya dengan ayah tiriku, ibu dikaruniai 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan.

Wednesday, 7 November 2018

DEKADENSI MORAL DI ERA MILENIAL

Secara harfiah, Dekadensi moral adalah kemerosotan atau turunnya nilai moral seseorang maupun kelompok terhadap norma-norma dan budaya luhur yang berlaku di masyarakat secara turun-temurun.

Derasnya arus globalisasi teknologi dan informasi semakin kentara mengikis norma dan budaya masyarakat kita. Hingar-bingar maraknya mesin-mesin canggih telah merubah dan meusak tatanan hidup yang selama ini terpelihara.


Budaya sungkem dan ramah-tamah kepada orangtuapun kini sudah semakin langka dilakukan dan dijumpai di kehidupan masyarakat kita. Di samping itu bahaya semakin maraknya tindakan asusila dan pelecehan seksual semakin menjadi-jadi. Nasihat orang tua sudah menjadi sesuatu yang dianggap barang usang dan tidak laku. Parahnya lagi dekadensi moral ini tidak hanya menjamur di kota metropolitan saja, tapi sudah merambah dan meracuni kaum remaja di pelosok-peloksok negeri. Proses penyebaran virus dekadensi moral ini sungguh menyeramkan dan sudah berada pada level kritis yang sangat mengkhawatirkan.

Dekadensi moral yang sangat kasat mata tengah meluluh-lantakkan generasi di era milenial ini meliputi;
a. Pergaulan bebas.
Dengan semakin mudahnya informasi masuk lewat dunia maya tanpa filter, maka
budaya-budaya baratpun dengan leluasa masuk dan secara perlahan mengikis budaya  
luhur kita. Dan salah satu dampak dari pergaulan bebas ini adalah semakin maraknya
komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) bermunculan di tengah-
tengah masyarakat kita.
b. Pelecehan seksual.
Banyaknya video dan konten-konten pornografi yang bebas bisa diakses oleh perangkat  
komunikasi di media-media sosial, merupakan faktor yg memicu pelecehan seksual di  
kalangan remaja.

Monday, 5 November 2018

CURHAT SEORANG DRIVER OJOL

Salam Satu Aspal.
Perkenalkan nama saya Edi. Saya lahir dan besar di Purwakarta, Jawa Barat. Usia saya 42 tahun, dan profesi saya saat ini sebagai driver Ojol (Ojek On Line). Saya driver Gojek.

Saya menjalani profesi sebagai driver ojol sudah sekitar setahun yang lalu sejak pendaftaran ojek berbasis online dibuka di Purwakarta. Pada waktu itu, diangkatan pertama mitra (driver) gojek yang daftar cuma sekitar 300 orang. Namun jumlah itu terus bertambah. Setelah setahun beroperasi sekarang membengkak menjadi 1500 orang lebih.

Berprofesi sebagai ojol adalah merupakan mata pencaharian baru bagi saya. Sebelumnya saya bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garmen bagian engineering (mesin). Tapi karena kondisi perekonomian nasional sedang lesu, maka pabrik garment tempat saya bekerja pun terkena imbasnya sampai akhirnya bangkrut dan saya terpaksa dirumahkan oleh pihak manajemen pabrik.


Bagi saya menjadi seorang ojol itu adalah pengalaman hidup yang sungguh luar biasa. Dari beberapa tempat pekerjaan yang pernah saya alami (pabrik sepatu, pabrik garmen, pelayan restoran bahkan sayapun pernah bekerja di sebuah hotel berbintang sebagai roomboy), tapi bekerja sebagai driver ojol sangat berbeda baik lingkungan kita berinteraksi sehari-hari ataupun jenis bidang usaha yang kita layani. Saya banyak belajar tidak saja tentang bekerja dan bertanggung jawab kepada manajemen, tapi juga banyak belajar tentang arti sebuah kebersamaan, persatuan, solidaritas, disiplin dan kekeluargaan yang semua ini tidak pernah saya temukan di tempat saya bekerja sebelumnya.